Skip navigation

Seorang kawan yang sedang melanjutkan studi doktoral di Amerika Serikat beberapa waktu lalu berkata kepada saya, “Bagaimana nih, Indonesia? Prakiraan cuacanya kok masih sering salah?” Kawan saya lalu membandingkannya dengan prakiraan cuaca di Amerika Serikat. Di Amerika, masih kata dia, prakiraan cuacanya 90 persen benar. Tiap setengah jam sekali, hampir semua channel televisi di sana menayangkan prakiraan cuaca. Dan kenyataannya, prakiraan itu selalu tepat dan jarang sekali meleset.

Sebagai peneliti, saya berusaha menjelaskan kepada kawan saya bahwa kemampuan Indonesia untuk membuat model prakiraan yang tepat memang masih rendah. Di samping itu, dinamika atmosfer di wilayah Indonesia memang lebih sulit diprediksi dibandingkan negara-negara di lintang menengah atau tinggi. Model atmosfer yang dikembangkan selama ini di Indonesia pun sebenarnya berasal dari model atmosfer dari negara-negara beriklim sedang. Model tersebut kurang mampu merepresentasikan (mewakili) parameter-parameter di khatulistiwa yang sangat dinamis seperti Indonesia. Akibatnya, model tersebut memiliki banyak sekali kelemahan dan kurang bisa menggambarkan kondisi sebenarnya dari atmosfer Indonesia. Tapi, kawan saya tampaknya kurang puas dengan jawaban saya. Ia pun berujar, “kalau begitu, ya harus buat model cuaca dan iklim yang bagus. Supaya prediksinya nggak salah terus.

Kenapa Prediksi Iklim?

Prediksi iklim mengacu pada rangkaian aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan sekumpulan informasi mengenai kondisi iklim (dan unsur-unsurnya) di masa mendatang. Informasi ini berguna dalam banyak hal. Misalnya saja, para petani sangat membutuhkan informasi mengenai prakiraan musim hujan agar mereka dapat memersiapkan masa tanam padi dengan lebih baik. Informasi dini mengenai terjadinya badai di lautan sangat bermanfaat bagi para nelayan, para nakhoda, dan juga para turis atau pelancong yang sedang berwisata.

Dengan demikian, informasi cuaca ekstrim juga dibutuhkan untuk sektor pariwisata, perikanan, pelayaran. Penerbangan juga sangat membutuhkan informasi cuaca. Hal ini karena perjalanan pesawat di udara sangat sensitif terhadap gejala cuaca seperti badai, awan, asap, dan sejenisnya. Pilot yang menerbangkan pesawat perlu tahu keadaan cuaca seperti kecepatan dan arah angin bertiup, awan, hujan, badai guruh, angin kabur, asap kebakaran hutan, debu letusan gunung, dan sebagainya.

Itulah sebabnya di tiap bandara terdapat stasiun meteorologi yang berguna untuk memantau cuaca dan memberikan informasi yang diperlukan penerbangan. Bidang lain yang membutuhkan informasi atau prediksi cuaca dan iklim antara lain: perkebunan, kehutanan, pembangunan gedung, penataan wilayah, dan kesehatan. Selain itu, yang tak kalah pentingnya, prediksi iklim juga sangat berguna untuk melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap pemanasan global (global warming).

Dengan melakukan prediksi iklim secara tepat, kita akan memiliki skenario perubahan iklim selama tiga puluh tahun ke depan atau hingga beratus-ratus tahun ke depan. Kita dapat memperkirakan dampak perubahan iklim dan menghitung besar kerugiannya terhadap negara kepulauan Indonesia. Sehingga kita dapat merancang suatu gerakan terintegrasi untuk mengantisipasi dan mengurangi resiko dari dampak perubahan iklim tersebut.

Iklim dan Cuaca

Cuaca dan iklim merupakan dua hal yang berbeda. Cuaca merupakan salah satu variabel yang menentukan kondisi iklim. Cuaca adalah keadaan rata-rata udara pada periode waktu sesaat (harian, jam-an). Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada periode waktu tertentu (bulanan, tahunan). Pengamatan mengenai iklim, agar dapat diperoleh data yang tepat untuk prediksi, dilakukan selama periode waktu tiga puluh tahunan. Dengan data yang panjang itulah kita dapat menyebut bahwa Indonesia beriklim monsun tropis.

Faktor Pengontrol Iklim

Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang merupakan elemen iklim dan bersifat relatif tetap. Faktor internal secara langsung mempengaruhi kondisi iklim dan menentukan pembagian iklim dunia, seperti: posisi matahari, distribusi lautan dan daratan, daerah tekanan tinggi dan daerah tekanan rendah, angin dan massa udara, tinggi tempat, barisan pegunungan, arus laut, badai.

Sementara itu, faktor internal yang berpengaruh langsung terhadap tipe atau variasi iklim adalah suhu udara, curah hujan, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, kelembaban udara, lamanya penyinaran dan intensitas radiasi matahari, penguapan.
Faktor eksternal adalah faktor di luar elemen iklim yang terjadi karena proses aktivitas alami (semburan vulkanik, ledakan di permukaan matahari, El Nino, La Nina, MJO, ENSO, siklon tropis) maupun non-alami (pencemaran udara, perubahan tata guna lahan).

Informasi Iklim

Informasi mengenai iklim dengan demikian merupakan sekumpulan informasi yang merangkum atau menjelaskan faktor-faktor pengontrol iklim seperti di atas. Informasi iklim dapat berupa suhu (temperatur) udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, curah hujan, musim (monsun), El Nino, La Nina, MJO, ENSO, siklon tropis, dan sebagainya. Informasi tersebut dapat diberikan secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan), selalu diperbarui (update), dan saat itu juga (real time). Media yang paling tepat untuk menghimpun informasi tersebut adalah website. Meskipun tak menutup kemungkinan jika informasi itu juga disebarkan ke berbagai media massa seperti koran, televisi, juga radio.

Kemampuan Indonesia

Kemampuan Indonesia dalam memprediksi iklim dapat dilihat dari kemampuan pemerintah dalam menyajikan informasi terkait iklim. Kemampuan pemerintah ini dapat dilihat dari penyajian informasi iklim oleh beberapa lembaga yang selama ini memang memusatkan perhatiannya pada iklim (dan unsur-unsurnya) serta secara konsisten menghasilkan produk-produk terkait iklim.

Beberapa lembaga tersebut antara lain: Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Departemen Pertanian (Balitklimat Deptan), Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN), Institut Teknologi Bandung (ITB). Tinjauan terhadap empat lembaga di atas dianggap cukup merepresentasikan kemampaun Indonesia dalam memprediksi iklim. Sajian informasi cuaca dan iklim keempat lembaga dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

BMG merupakan lembaga resmi pemerintah yang bertugas memberikan layanan informasi kepada masyarakat terkait cuaca dan iklim. Itulah sebabnya, BMG dianggap sebagai lembaga yang paling unggul dalam memprediksi iklim. Tidak tanggung-tanggung, BMG didukung oleh 137 stasiun pemantau cuaca yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan demikian BMG sangat unggul dalam menyajikan data hasil pengukuran (observasi) dari permukaan tanah (groundbased). Informasi prakiraan cuaca selama ini disampaikan BMG melalui berbagai media yaitu website, koran, radio, televisi, dan jurnal yang diterbitkan berkala setiap bulan.

Dari tabel informasi cuaca dan iklim dapat diketahui, BMG telah menyebarkan informasi cuaca terkini dari skala waktu haran, mingguan, bulanan, yang semua dapat dengan mudah diakses melalui website (www.bmg.go.id). Bahkan ada pula analisis yang ditulis oleh BMG mengenai prakiraan awal musim serta berbagai fenomena iklim ekstrim seperti fenomena El Nino, La Nina, MJO (Madden Julian Oscillation). Informasi liputan awan juga diberikan BMG melalui satelit GMS. Liputan awan tersebut diberikan selama seminggu sekali dan diberi judul: prospek cuaca mingguan. Tapi, semua model prediksi yang diberikan BMG merupakan model statistik. BMG masih belum banyak bereksperimen dengan model numerik atau model dinamik.

Sementara Program Studi Meteorologi ITB (Laboratorium Prediksi Cuaca dan Iklim) juga menyajikan informasi cuaca harian yang secara bebas dapat diperoleh melalui website weather.geoph.itb.ac.id. Informasi cuaca ini merupakan hasil dari model dinamik NCEP AVN atau GFS model global. Ada juga model regional Indonesia yang dibuat dengan model MM5. Selain itu, ITB juga menampilkan informasi monitoring cuaca dari satelit yang diunduh dari website NOAA (milik Amerika) lalu dilakukan pengecilan skala (downscaling) hingga resolusi 30 kilometer sehingga diperoleh peta cuaca di Indonesia.

Balitklimat Deptan menampilkan informasi iklim berupa analisis iklim global dan iklim Indonesia. Analisis iklim global dan regional ini dilakukan Balitklimat dengan cara mengumpulkan informasi dari berbagai situs di luar negeri seperti NOAA, IRI. Analisis tersebut antara lain meliputi kondisi El Nino dan La Nina, ENSO, serta menampilkan curah hujan dari model global NCEP. Balitklimat juga menyajikan data dari AWS (Automatic Weather Station) yang secara rutin melakukan pembaruan (up-dating) terhadap prediksi curah hujan setiap tiga bulan. Balitklimat juga membuat peta musim (kemarau atau hujan) di sentra-sentra produksi (pertanian) di Pulau Jawa. Peta ini selanjutnya digunakan untuk membuat peta musim tanam yang sangat bermanfaat bagi para petani.

LAPAN memiliki kekhasan dalam hal kepemilikan data (space-based). LAPAN didukung oleh tujuh Stasiun Pengamat Dirgantara. Stasiun pengamat tersebut memiliki manfaat diantaranya pemantauan satelit dan lingkungannya, mengamati atmosfer dan cuaca, pengamatan matahari, peluncuran roket, telekomunikasi dirgantara, dan lainnya. Data satelit yang diterima dan diolah oleh LAPAN setiap hari berasal dari satelit LANDSAT, SPOT, ERS1, ERS2, JERS1, JERS2, MODIS, GMS, NOAA, Satelit Mikro Indonesia. Selain itu, LAPAN memiliki radar atmosfer ekuator terbesar di Asia Tenggara yaitu EAR (Equathorial Atmospheric Radar) yang terletak di Kototabang.

Radar ini dapat menghasilkan data cuaca dan iklim seperti arah dan kecepatan angin (horisontal-vertikal-zonal-meridional) secara kontinyu. Kemampuan memodelkan iklim juga telah dimiliki oleh LAPAN. Lembaga ini memiliki model DARLAM (Limited Area Model), yaitu model iklim regional yang dikecilkan skalanya (down scaling) dari model global GCM 9. Model GCM 9 tersebut berasal dari CSIRO (Australia). Model DARLAM merupakan model iklim yang mampu melakukan prediksi iklim selama tiga hingga enam bulan ke depan.

BMG, ITB, Deptan, LAPAN, sebenarnya memiliki ciri khas dan kelebihan masing-masing. BMG unggul pada kemampuannya memperoleh data observasi cuaca dari 173 stasiun pengamat cuaca. ITB unggul di bidang pemodelan numerik untuk cuaca dan iklim, meskipun selama ini tampilan website masih terbatas pada informasi terkini cuaca dan belum menyentuh iklim dan analisisnya. Balitklimat Deptan memiliki data AWS yang tersebar di sentra-sentra produksi pertanian di Indonesia. Sementara LAPAN unggul dari sisi data satelit dan pemodelan iklim DARLAM.

Jika kemampuan memprediksi iklim yang tersebar di tiap lembaga ini terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik, maka Indonesia akan mampu melejitkan kemampuannya untuk membuat model skenario perubahan iklim yang berkualitas bagus. Sebab model skenario perubahan iklim yang berkualitas bagus membutuhkan resolusi yang baik, eror yang minimal, serta harus diverifikasi dengan data observasi yang juga berkualitas baik. Itu semua tak mungkin dicapai sendiri-sendiri, mealinkan dengan bekerja sama dan bersinergi, menyatukan keunggulan dan kekuatan yang kini masih berserakan pada tiap orang (lembaga).

*)Penulis adalah (Pembantu) Peneliti di Bidang Pemodelan Iklim Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN Bandung

Bacaan:
1. Website Badan Meteorologi dan Geofisika: www.bmg.go.id.
2. Website Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional: www.lapan.go.id; www.lapanrs.go.id; www.bdg.lapan.go.id.
3. Website Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Departemen Pertanian: www.balitklimat.litbang.deptan.
4. Website Meteorologi ITB: weather.geoph.itb.ac.id.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: